Dua Dekade Aceh Kembali Menangis, Badai Pasti Berlalu

 


Aceh Utara - Di tengah gelapnya duka dan kerasnya cobaan, harapan tak pernah benar-benar padam. Setiap air mata yang jatuh menjadi saksi keteguhan hati, bahwa seberat apa pun badai menerpa, selalu ada fajar yang menanti untuk kembali menyinari kehidupan. Duka kembali menyapa bumi Serambi Mekkah. Namun, di balik kepedihan yang datang berulang dan luka yang belum sepenuhnya kering, terselip keyakinan yang tak tergoyahkan: badai ini pun akan berlalu, dan Aceh akan bangkit kembali dengan keteguhan, doa, dan kekuatan.

Aceh bukan hanya tentang luka yang tercetak dalam sejarah, melainkan juga tentang mereka yang setia menjaga ingatan. Di balik setiap peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang bumi Serambi Mekkah, selalu ada sosok yang bekerja dalam senyap, merekam duka, dan menyuarakan harapan. Salah satunya adalah Hamdani.

Nama Hamdani tak asing dalam dunia pers Aceh. Mantan jurnalis Metro TV ini telah melewati babak-babak paling kelam dalam sejarah Aceh: konflik bersenjata yang panjang, tragedi maha dahsyat tsunami 2004, hingga bencana banjir bandang dan longsor yang kembali melanda Aceh pada 2025.

Ia bukan sekadar peliput peristiwa, Hamdani adalah saksi hidup perjalanan panjang penderitaan dan keteguhan rakyat Aceh. Dalam setiap tragedi yang ia liput, kamera di tangannya tak hanya merekam gambar, tetapi juga menangkap jerit yang tertahan, doa yang lirih, serta air mata yang tak sempat mengusap. 

Perannya paling dikenang saat tsunami Aceh, Hamdani menjadi salah satu sosok di balik Program Metro T yang dikemas dengan judul Indonesia Menangis, ditayangkan berulang ulang di televisi  nasional media grub Milik Pura Aceh Surya Paloh, Tayangan itu menggugah nurani Bangsa dan Dunia. 

Dari layar kaca, simpati mengalir deras, bantuan datang dari berbagai penjuru nusantara bahkan dari Internasional  yang tersentuh oleh kisah pilu Aceh dihempas Tsunami. 

Kini, meski tak lagi sepenuhnya berada di garis depan media nasional, dedikasi Hamdani tak pernah surut. Menjabat sebagai Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Aceh Utara, ia tetap berada di barisan terdepan setiap kali bencana kembali datang.

Pada peristiwa banjir bandang dan longsor November 2025, Hamdani kembali turun ke lapangan. Ia melaporkan kondisi Aceh Utara yang terendam, terisolasi, dan lumpuh aktivitasnya. Bahkan pada 27 November 2025, Hamdani sempat terjebak banjir usai melakukan peliputan di kawasan Meurah Mulia dan Samudera. Bersama seorang jurnalis Lentera yang juga anggota JMSI Aceh Utara - Lhokseumawe, ia terkurung derasnya arus air di wilayah Keude Bayu.

Namun, risiko itu tak menghentikannya. Di tengah lumpuhnya infrastruktur dan terputusnya jaringan komunikasi akibat banjir bandang, Hamdani justru menjadi salah satu urat nadi penting dalam upaya menyambung kembali komunikasi Aceh Utara. Ia berperan merajut koordinasi, memastikan informasi tetap mengalir, dan membantu pemerintah daerah bergerak cepat di tengah krisis.

Hamdani adalah potret jurnalisme yang melampaui profesi. Ia menjadi pengingat bahwa di setiap bencana, selalu ada manusia yang memilih bertahan, mengabdi, dan menjaga agar penderitaan tak pernah dilupakan agar luka tak sekadar menjadi angka.

Meski kini telah lebih dari dua dekade berlalu sejak tsunami Aceh mengguncang dunia, ingatan kolektif masyarakat Aceh masih menyimpan gemuruh gelombang dan kehilangan ribuan nyawa. Ingatan itu kembali diperbarui oleh musibah banjir bandang pada November 2025, yang merenggut ratusan korban jiwa dan melumpuhkan sendi-sendi kehidupan warga.

Di tengah air bah dan reruntuhan harapan, Hamdani tetap berdiri. Menjadi saksi, menjadi penghubung, dan menjadi suara Aceh dari luka menuju harapan.

Alumni Pasca Sarjana IAIN bercerita pasca banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh Utara pada November 2025 !!!

Malam itu tepat pukul 24.00 WIB pada tanggal 27 November 2025 usai terjebak banjir bandang di Keude Bayu, telepon Hamdani berdering di tengah gelap yang kian mencekam. Di ujung sambungan,  Kepala Dinas Perkebunan dan Kesehatan Hewan, Fauzan menyampaikan bahwa ia sedang bersama Plt Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, M.Pd. Di balik suara yang terdengar letih, tersimpan kegelisahan yang sama: Aceh Utara sedang dilanda musibah besar.

Plt Sekda menyampaikan harapannya dengan nada pilu. Ia ingin bencana ini benar-benar “membuat Aceh Utara menangis”, bukan untuk meratap, tetapi agar jeritan warga terdengar hingga ke seluruh Indonesia, bahkan dunia. Ia menanyakan kabar rekan-rekan jurnalis televisi, seperti Saiful MDA dari TV One dan Abdu, kontributor Metro TV, berharap kamera dan suara mereka dapat menjadi mata dan hati publik atas derita rakyat Aceh Utara.

Malam itu juga, Hamdani menyanggupi. Esok hari, ia berjanji akan menelusuri keberadaan jurnalis TV, media cetak, dan media daring agar tragedi ini tidak tenggelam bersama air bah. Namun di sela percakapan, Hamdani menyampaikan kegelisahannya sendiri. 

Ia mengusulkan agar pemerintah segera meminta bantuan perahu nelayan. Masih ada warga Blang Peuria Kecamatan Samudera yang terjebak bertahan di atas atap rumah, bergelantungan di pepohonan, melawan arus banjir yang tak kunjung surut.

Plt Sekda terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tekad. Ia akan segera menghubungi dinas terkait dan meminta Panglima Laot setempat untuk menggerakkan perahu nelayan, demi mengevakuasi warga yang masih hidup serta menurunkan jenazah yang tersangkut di pepohonan. Setiap menit terasa terlalu berharga untuk disia-siakan.

Tak sampai dua puluh menit berselang, Pak Fauzan kembali menelepon. Ia mengajak Hamdani bertemu di Syarif Delima salah satu warung kopi Ulee kareng yang legendaris di kota Lhokseumawe, membahas bagaimana musibah ini harus “dibunyikan” dengan jujur dan lantang tentang rumah-rumah yang hanyut, harta yang lenyap, dan korban yang jumlahnya tak sedikit. Namun Hamdani hanya bisa menarik napas panjang. Ia tak mampu keluar rumah. Air semakin tinggi, menutup lorong masuk rumahnya di Uteunkot Cunda. Mobil dan sepeda motor tak mungkin menembus banjir kiriman dari perbukitan Muara Dua.

Gelap kian pekat. Listrik padam. Tubuhnya pun nyaris tak sanggup lagi bergerak. Kelelahan menumpuk setelah sebelumnya menempuh perjalanan panjang dari Keude Bayu hingga ke Kandang Muara Dua dengan berjalan kaki, menerjang air dan lumpur. Dalam kondisi itu, Hamdani hanya bisa berjanji lirih: esok pagi, insyaallah, ia akan datang.

Dan pagi itu akhirnya tiba. Di Jembatan Geudong Kecamatan Samudera, mereka bertemu dengan mata sembab, tubuh letih, tetapi tekad yang utuh. Di atas jembatan yang menjadi saksi amukan banjir bandang, mereka menyusun langkah-langkah darurat, berpacu dengan waktu, demi menyelamatkan nyawa dan memulihkan harapan warga Aceh Utara yang sedang berduka serta mengirimkan perahu penyelamat (rescue boat) untuk mengevaluasi bupati Aceh Utara untuk di bawa ke Pondopo yang berada di pusat Kota Lhokseumawe.

Kisa Bupati Aceh Utara Ayahwa Terjebak Banjir Bandang

Di tengah amukan banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM yang akrab disapa Ayahwa menyampaikan kisah pilu perjuangannya melawan bencana alam yang nyaris merenggut nyawa. Kisah tersebut ia ungkapkan dengan suara bergetar saat konferensi pers bersama wartawan nasional dan media elektronik di Op Room Kantor Bupati Aceh Utara, Landing Kecamatan Lhokseukon, Rabu 24 Desember 2025.

Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025 menjadi peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan. Saat itu, Ayahwa berada di Gampong Reumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, ketika bendungan jebol dan air bah datang tanpa ampun. Ia sempat terjebak di lokasi dan hanya dengan upaya penyelamatan darurat berhasil menyelamatkan diri. Namun, di balik keselamatannya, duka mendalam menyelimuti hatinya. Salah satu anggota timnya terseret arus banjir dan dinyatakan hilang selama enam hari tanpa kabar.

Dalam kondisi fisik dan batin yang terkuras, Ayahwa baru tiba di kediamannya di Gampong Matang Serdang, Kecamatan Jambo Aye, sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Ia hanya sempat beristirahat sejenak. Dua jam berselang, tepat pukul 04.00 WIB, ia kembali terbangun oleh kenyataan pahit: air banjir telah mengelilingi rumahnya.

Tanpa sempat berpikir panjang, Ayahwa bersama orang tua dan istrinya segera menyelamatkan diri dengan naik ke atap rumah. Selama dua hari dua malam, mereka bertahan di atas atap, dikepung air yang terus meninggi. Dalam keheningan malam dan deru arus banjir, ia mengaku merasa seolah dunia telah runtuh, seakan kiamat telah tiba dan segalanya kehilangan makna.

Namun, di tengah keputusasaan itu, pikirannya terus tertuju pada anaknya yang berada di salah satu pesantren serta ribuan warga Aceh Utara yang terjebak banjir tanpa pertolongan cepat. Perasaan sebagai pemimpin mengalahkan rasa takutnya sendiri. Dengan peralatan seadanya, ia berusaha keluar dari kepungan banjir demi memastikan keselamatan warganya.

Ayahwa kemudian meminta Kapolres Aceh Utara untuk menurunkan kendaraan taktis jenis REO guna menembus derasnya arus banjir dan melakukan penyelamatan. Upaya itu bukan tanpa risiko. Derasnya air dan tingginya genangan membuat proses evakuasi sangat sulit dan berbahaya. Namun, bagi Ayahwa, keselamatan rakyat adalah harga yang harus diperjuangkan, meski nyawanya sendiri menjadi taruhan.

Kisah ini menjadi potret nyata betapa bencana tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga keteguhan hati seorang pemimpin yang memilih berdiri bersama rakyatnya, bahkan saat ia sendiri menjadi korban dari bencana tersebut.

[Penulis : Muhammad Sayuti Anggota PWI Lhokseumawe / Lulusan UKW 2025]

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak