Seorang wanita berusia 24thn di Aceh Utara tumbuh dengan luka batin yang tak banyak diketahui orang. Ia kehilangan sosok ibu sejak usia tiga tahun, usia yang terlalu dini untuk memahami arti kehilangan, namun cukup untuk meninggalkan bekas yang mendalam dalam jiwa.
Kenangan tentang ibunya nyaris tak ia miliki. Namun, sebuah cerita dari sang nenek terus melekat dalam ingatannya. Saat ibunya meninggal dunia dan telah dimakamkan, sang anak kecil justru menolak pulang dari pemakaman. Ia duduk di sana, menangis, seolah tak rela berpisah. Sejak hari itu, kerinduan kepada sosok ibu menjadi ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi.
Ia kemudian dibesarkan oleh ayah kandung dan ibu sambungnya. Kehidupan berjalan seperti biasa, namun di balik keseharian itu, ia menyimpan batin yang terluka. Rasa kasih sayang seorang ibu kandung, yang semestinya ia rasakan sejak kecil, tak pernah benar-benar ia miliki. Luka itu ia simpan rapat-rapat, tanpa banyak kata.
Untuk bertahan, ia belajar menghibur dirinya sendiri. Dukungan dari teman-teman dan orang-orang di sekelilingnya menjadi penguat langkahnya. Ia tumbuh menjadi pribadi yang tegar, meski di dalam hatinya ada kerinduan yang tak pernah usai.
Kini, wanita itu telah dewasa dan bekerja di salah satu dinas pemerintahan di Kabupaten Aceh Utara. Ia dikenal sebagai pegawai yang tekun, bertanggung jawab, dan menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. Di tempat ia bekerja, ia berada di bawah naungan seorang Kepala Sub Bagian Umum (Kasubbag Umum), seorang perempuan yang tegas, namun memiliki sisi keibuan yang kuat.
Tanpa ia sadari, kehadiran pimpinan perempuannya itu perlahan memberi rasa yang selama ini hilang. Perhatian kecil, teguran yang lembut, dan kepedulian yang tulus membuatnya merasa dilihat, bukan sekadar sebagai bawahan.
Hingga suatu hari, pada jam istirahat makan siang, sang Kasubbag Umum mengajak para staf untuk makan bersama. Suasana berlangsung sederhana dan hangat. Namun, sebuah tindakan kecil mengubah segalanya. Saat makan, sang Kasubbag dengan spontan menyuapi makanan kepadanya.
Detik itu, tangisnya pecah. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Bukan karena sedih, melainkan karena sentuhan keibuan yang selama ini hanya ia kenal lewat kerinduan. Suapan itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol kasih sayang seorang ibu yang tak pernah ia rasakan sejak kecil.
“Rasanya seperti disuapi ibu kandung sendiri,” ujarnya lirih, menahan haru.
Momen itu menjadi titik di mana luka lama terasa disentuh dan perlahan disembuhkan. Ia menyadari bahwa kasih sayang seorang ibu tidak selalu datang dari hubungan darah. Terkadang, Tuhan menghadirkannya melalui orang-orang yang ditemui di tengah perjalanan hidup, dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas birokrasi yang kerap dianggap kaku, tersimpan kisah-kisah kemanusiaan yang menyentuh. Tentang seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya sejak dini, dan menemukan kembali hangatnya kasih seorang ibu, di meja makan sederhana, di lingkungan kerja Kabupaten Aceh Utara.
