Ketika Pengabdian Lebih Berharga Daripada Jabatan

 


Lhokseumawe - Menjadi seorang akademisi bukan sekadar tentang rutinitas masuk ruang kuliah, memaparkan materi, lalu mengejar angka kredit demi kenaikan jabatan fungsional. Lebih dari itu, akademisi adalah sebuah jalan panjang peradaban sebuah ikhtiar tanpa akhir untuk merawat pengetahuan, membentuk karakter generasi, dan menjadi kompas moral bagi masyarakat.

Namun, panggung akademik tidak selalu ramah. Ada kalanya gagasan besar yang dirancang untuk memajukan institusi harus terbentur realitas pemilihan jabatan struktural. 

Ketika kesempatan memimpin yang diharapkan justru jatuh ke tangan orang lain, disitulah kedewasaan seorang ilmuwan diuji secara radikal: Apakah ia akan tumbang oleh kecewa, atau tegak berdiri menempuh jalan pengabdian yang lain?

Kursi Pimpinan Punya Batasan, Ilmu Tidak

Dalam ekosistem perguruan tinggi, jabatan seperti rektor, dekan, atau kepala lembaga sering kali diagungkan sebagai satu-satunya ruang strategis untuk membawa perubahan. 

Memang benar, otoritas struktural memberi kemudahan dalam mengeksekusi kebijakan. Namun, mengerdilkan arti pengabdian hanya sebatas pada kepemilikan kursi pimpinan adalah sebuah kekeliruan berpikir.

Perguruan tinggi jelas membutuhkan nakhoda yang berani mengambil keputusan. Namun, kampus jauh lebih membutuhkan dosen yang tekun mengajar di kelas sunyi, peneliti yang konsisten melahirkan kebaruan ilmu, penulis yang tajam menyebarkan gagasan, serta mentor yang membimbing mahasiswa dengan ketulusan emosional.

Gelombang perubahan besar sering kali tidak dimulai dari meja rapat senat, melainkan dari ruang-ruang kelas kecil, perdebatan laboratorium, dan diskusi ilmiah yang intim. Karena itu, kalah dalam kontestasi politik kampus sama sekali bukan akhir dari otoritas intelektual seseorang.

Merawat Integritas di Sisi Kecewa

Mengalami penolakan atau tidak terpilih tentu memicu rasa kecewa. Itu manusiawi. Ada keringat persiapan, waktu yang dikorbankan, dan idealisme yang telanjur melambung. Menata kembali patahan harapan tersebut membutuhkan ruang dan waktu.

Kendati demikian, etos akademik menuntut kita untuk tidak membiarkan ego mengambil alih kemudi hidup. Seorang akademisi sejati diuji dari caranya menyikapi kekalahan: menerima hasil dengan kelapangan dada, melakukan otokritik secara objektif, dan tetap menjaga kehormatan institusi.

Sikap legawa ini bukan berarti membungkam daya kritis. Kritik berbasis data dan argumentasi ilmiah tetap harus disuarakan demi perbaikan kampus. Yang perlu dihindari adalah menjadikan satu kegagalan elektoral sebagai ukuran mutlak harga diri. Reputasi seorang intelektual tidak divalidasi oleh selembar Surat Keputusan (SK) jabatan, melainkan oleh konsistensinya dalam menjaga integritas dan memproduksi karya yang solutif.

Momentum Reorientasi Pengabdian

Alih-alih meratapi kesempatan yang berlalu, momentum ini dapat dijadikan titik balik untuk pulang ke khitah tujuan dasar Tridharma. Energi yang tadinya dipersiapkan untuk urusan birokrasi kini bisa dialihkan penuh untuk memperkuat basis keilmuan. Inilah saatnya menyelesaikan riset yang tertunda, menulis buku, memperluas jejaring kolaborasi internasional, atau mendampingi mahasiswa dengan lebih dekat.

Di sisi lain, institusi kampus juga harus dewasa. Setelah riuh pemilihan usai, semangat kolegialitas wajib dirajut kembali. Perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk mengisolasi potensi, memutus kolaborasi, atau membungkam pemikiran-pemikiran kritis dari pihak yang tidak terpilih. Kampus yang sehat adalah kampus yang mampu merangkul semua energi intelektual demi tujuan bersama.

Mengabdi Tanpa Menanti Tepuk Tangan

Pada akhirnya, riwayat akademik mengajarkan bahwa tidak semua ikhtiar berujung pada jabatan yang diinginkan. Namun, setiap proses selalu meninggalkan pematangan karakter. Kita tidak harus duduk di kursi pimpinan untuk membantu mahasiswa menemukan masa depannya. Kita tidak membutuhkan stempel struktural untuk melahirkan pemikiran yang mengubah dunia.

Jabatan selalu memiliki masa kedaluwarsa dan figur pimpinan akan terus berganti. Namun, ilmu pengetahuan yang diajarkan dan karya ilmiah yang dipublikasikan akan hidup abadi melintasi generasi.

Ketika satu pintu struktural tertutup, seorang akademisi justru berkesempatan menemukan kembali alasan paling murni mengapa ia memilih jalan sunyi pendidikan, bukan untuk menjadi siapa-siapa, melainkan untuk memastikan hidupnya bermakna bagi sesama. (*)

Sumber: Linda Handayani, S.Pd.,M.Pd

Mahasiwa Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Dosen UMMAH.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak