Ranub Sigapu: Kisah Teungku H. Iskandar Ali, Legenda Sepak Bola Pase yang Pernah Menjadi Tahanan pada Masa Konflik Aceh



ACEH UTARA – Nama Teungku H. Iskandar Ali, yang akrab disapa Tu IH, merupakan salah satu sosok yang memiliki perjalanan hidup panjang dalam dunia sepak bola dan dinamika konflik Aceh. Lahir di Krueng Geukueh pada 1 Desember 1966, ia pernah membawa nama Aceh Utara di lapangan hijau, sebelum kehidupannya berubah akibat konflik yang melanda Tanah Rencong.

Kisah Tu IH menjadi bagian dari perjalanan generasi Aceh yang mengalami masa kejayaan olahraga sekaligus menghadapi berbagai ujian selama konflik berlangsung.

Mengukir Prestasi di Lapangan Hijau

Kecintaan Tu IH terhadap sepak bola tumbuh sejak kecil. Bakat tersebut, menurut kisah perjalanan hidupnya, diwarisi dari sang ayah. Sejak usia sekolah, ia mulai menunjukkan kemampuan bermain sepak bola hingga dipercaya memperkuat POPSI Aceh Utara saat duduk di bangku SMP.

Ketika memasuki masa SMA, kiprahnya semakin berkembang. Ia memperkuat sejumlah klub, di antaranya PSPU Jangka, PSLS Lhokseumawe, PSSB Bireuen, serta PBI Galakarya pada 1983.

Puncak pencapaiannya terjadi pada 1989 ketika ia terpilih memperkuat tim PON Aceh untuk berlaga di Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena ia dapat membawa nama daerahnya dalam ajang olahraga tingkat nasional.

Sebelumnya, pada 1988, Tu IH juga tercatat bekerja di PT Kertas Kraft Aceh (PT KKA). Perjalanan sepak bolanya berlanjut dengan memperkuat Aceh Putra Galatama pada periode 1991–1993.

Dari Lapangan Hijau ke Pusaran Konflik

Perjalanan hidup Tu IH kemudian memasuki babak yang berbeda ketika konflik bersenjata melanda Aceh.

Berdasarkan penuturannya, pada 1992 ia ditangkap oleh aparat BKO tanpa proses hukum yang jelas. Ia mengaku mengalami penyiksaan dan dibawa ke laut hingga ditenggelamkan. Namun, ia berhasil selamat dari peristiwa tersebut, meskipun pengalaman itu meninggalkan luka mendalam dalam kehidupannya.

Di tengah situasi konflik, Tu IH kemudian dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Sagoe Bujang Salem dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pase. Dalam peran tersebut, ia membawahi wilayah Kecamatan Dewantara dan Muara Batu.

Ia menjalankan amanah itu pada masa kepemimpinan dua Ulee Sagoe, yakni Teungku Mahdi dan kemudian Teungku Mahmudi bin Teungku Imum Sarong.

Masa tersebut menjadi salah satu bagian paling berat dalam perjalanan hidupnya. Di tengah ketidakpastian dan ketegangan yang dirasakan masyarakat, ia menjalankan tanggung jawab dalam struktur perjuangan yang diikutinya.

Kembali Ditangkap pada Masa Darurat Militer

Ujian kembali datang pada 2003, ketika pemerintah memberlakukan Darurat Militer di Aceh. Tu IH kembali ditangkap dengan tuduhan sebagai simpatisan GAM dan makar.

Ia kemudian menjalani masa penahanan di Lembaga Pemasyarakatan Lhokseumawe selama satu tahun enam bulan.

Pengalaman penangkapan dan penahanan tersebut menjadi bagian penting dari kisah hidupnya sebagai sosok yang pernah mengalami langsung dampak konflik berkepanjangan di Aceh.

Setelah Damai, Perhatian Beralih kepada Kemanusiaan

Setelah perdamaian hadir di Aceh, perhatian Tu IH tertuju pada persoalan kemanusiaan yang ditinggalkan konflik. Ia menyimpan keinginan untuk membantu masyarakat yang terdampak, terutama para janda, anak yatim, dan keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih.

Ia menyadari bahwa membantu mereka bukanlah perkara mudah. Keinginan untuk berbuat lebih banyak masih dibayangi kesadaran akan keterbatasan dirinya dalam memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat yang membutuhkan.

Bagi Tu IH, penderitaan akibat konflik tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga beban sosial dan emosional yang dirasakan keluarga korban dalam waktu panjang.

Kepedulian terhadap mereka menjadi salah satu harapan yang ingin terus ia wujudkan pada masa kehidupannya sekarang.

Kisah Hidup yang Menjadi Pengingat

Perjalanan Teungku H. Iskandar Ali memperlihatkan berbagai sisi kehidupan seorang putra Pase. Ia pernah mengejar prestasi di lapangan hijau, mengalami masa-masa sulit akibat konflik, serta menyaksikan dampak kemanusiaan yang ditinggalkan oleh pertikaian berkepanjangan.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sekadar berakhirnya suara senjata, melainkan juga tentang upaya memulihkan kehidupan masyarakat dan memberikan perhatian kepada mereka yang terdampak konflik.

Bagi generasi muda, perjalanan Tu IH juga menjadi gambaran tentang perubahan jalan hidup, keteguhan menghadapi cobaan, dan pentingnya menjaga kepedulian terhadap sesama.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, dan kemudahan kepada Teungku H. Iskandar Ali dalam menjalani masa tuanya serta mewujudkan niat baik untuk membantu masyarakat.

Ranub Sigapu — merawat ingatan, mengangkat kisah, dan menjaga nilai kemanusiaan dari Tanah Pase.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak