Aceh Utara – Gampong Pulo Iboh ,Blang Ara di Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, hingga kini masih bertahan sebagai salah satu sentra utama produsen kerajinan atap rumbia tradisional. Meski zaman telah bergeser ke material modern, komoditas hijau ini tetap menjadi urat nadi perekonomian bagi sebagian besar warga setempat yang menggantungkan hidup dari pelepah daun rumbia. Jumat, (23/10/26)
Kualitas anyaman yang rapat dan daya tahan tinggi membuat produk dari dua desa ini sangat diminati untuk membangun pondok wisata, kafe estetik, hingga rumah panggung tradisional. Namun, di balik potensi besar tersebut, para perajin kini menghadapi tembok besar bernama hambatan logistik dan pemasaran antar-kabupaten.
Hambatan Logistik Lintas Kabupaten
Untuk mendalami situasi di lapangan, saya berkesempatan berbincang dengan Fadil (38), salah seorang warga sekaligus perajin aktif dari Gampong Pulo Iboh. Ia membeberkan bahwa meski serapan pasar untuk kebutuhan lokal di daerah Aceh Utara dan Lhokseumawe alhamdulillah masih stabil, mereka kini sangat kesulitan menembus pasar luar daerah seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Timur, hingga Kabupaten Bireuen.
Padahal, permintaan dari wilayah-wilayah tersebut sebenarnya cukup tinggi, terutama dari para pemilik warung kopi dan pengelola tempat wisata.
Fadil menjelaskan bahwa kendala nomor satu yang mereka hadapi adalah biaya transportasi dan akses logistik. Karakteristik atap rumbia yang ringan namun memakan tempat yang sangat besar (volume tinggi) menjadi beban tersendiri bagi perajin kecil.
"Untuk mengirim ke Takengon (Aceh Tengah) atau Bener Meriah, kami harus menyewa truk. Ongkos angkut melewati jalur gunung itu mahal sekali, membuat harga jual kami di sana jatuh karena kalah saing dengan biaya operasional," keluh Fadil.
Selain jalur pegunungan yang ekstrem, ia juga mengaku para perajin belum memiliki jaringan pengepul tetap di wilayah Aceh Timur dan Bireuen, sehingga sering kali kebingungan untuk menyalurkan produk mereka dalam skala grosir.
Harapan Keberlanjutan Ekonomi
Melihat kondisi ini, Fadil menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah agar bersedia turun tangan mengatasi masalah ekonomi yang menjerat para perajin. Ia berharap Dinas Perdagangan atau Koperasi setempat bisa membantu memfasilitasi pembentukan jaringan pasar baru atau menyediakan armada angkutan kolektif khusus komoditas lokal. Menurutnya, jika ada wadah resmi yang mampu menjembatani perajin Pulo Iboh langsung dengan para pengusaha wisata di Bireuen atau Aceh Tengah, maka denyut nadi ekonomi perajin di desa mereka pasti akan jauh lebih hidup.
Keterbatasan akses pasar luar daerah ini jika dibiarkan akan terus menyebabkan penumpukan stok di tingkat perajin, terutama ketika permintaan lokal sedang lesu. Tanpa adanya intervensi nyata berupa pembukaan jalur distribusi yang lebih efisien ke kabupaten tetangga, potensi ekonomi hilir dari pohon rumbia yang melimpah di Kuta Makmur ini dikhawatirkan akan meredup perlahan, tergerus oleh ongkos logistik yang kian mencekik.(Sumber: Zulfadli Kawom)
